Tampilkan postingan dengan label calcio mercato. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label calcio mercato. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

"Lazio Harus Dapat Mendikte Laga"


“Lazio Harus Dapat Mendikte Laga”
foto: http://sslazio.it
Lazio sedang on fire dan Vladimir Petkovic ingin situasi ini terus berlanjut saat menghadapi Palermo. “Lazio harus dapat mendikte laga dan tidak gentar menghadapi lawan.”

Biancocelesti mengalami masa yang sulit selama pra-musim, tetapi Petkovic sejauh ini memiliki rekor 100% dalam tiga laga resminya di Serie-A dan Liga Europa.

“Sangat penting untuk beristirahat setelah laga hari Kamis (Jumat waktu Indonesia), dan saya belum terlalu banyak melakukan analisis tentang lawan bersama tim,” katanya seusai mengalahkan Mura dengan agregat 5-1 di play off Liga Europa.

“Kami akan mulai melakukannya petang ini. Palermo adalah lawan yang harus dihormati dan mereka memiliki banyak pemain hebat. Kami menghormati mereka, tetapi kami harus dapat mendikte mereka di atas lapangan kami sendiri. Lazio tidak boleh takut kepada siapapun.”

 “Tidak ada gunanya untuk segera menentukan apa yang dapat kami capai musim ini. Paling tidak dibutuhkan 10 laga untuk melihat pada tingkat mana para pemain berada. Bagaimanapun, Serie-A tetap menjadi ajang yang menarik. Saya memiliki keyakinan yang tinggi dan yang terpenting adalah kami harus terus memperbaiki diri dari hari ke hari.”

Lazio lolos ke fase grup Liga Europa, tetapi masuk dalam grup keras bersama Tottenham Hotspurs, Panathinaikos dan Maribor.

“Lebih baik tergabung dalam grup yang sangat sulit,” kilah Petkovic. “Kami memiliki motivasi besar, dan sangat baik untuk menghadapi ketiga tim yang sangat dinantikan para fans. Kami pasti dapat bersaing memperebutkan dua terbaik di grup.”
Tetapi Petkovic tidak bahagia dengan apa yang dilakukan manajemen Lazio selama calcio mercato musim panas ini.

“Dipastikan saya tidak mungkin bekerja dengan jumlah pemain yang sebanyak ini. Mungkin mereka akan dibagi dalam beberapa grup berbeda dan melakukan latihan khusus saat saya mempersiapkan tim utama untuk suatu pertandingan.”
(galuh trianingsih lazuardi, terjemahan bebas dari http://www.football-italia.net/24588/petkovic-lazio-command-palermo)

Rabu, 15 Agustus 2012

Lini Belakang Lazio Berpacu Dengan Waktu


Lini Belakang Lazio Berpacu Dengan Waktu
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
@2012
Memasuki dua minggu terakhir sebelum jendela transfer musim panas ini berakhir, Lazio masih dihadapkan pada masalah pelik di lini belakang. Kebutuhan akan bek kiri baru memang sementara dikesampingkan dengan pulihnya Stefan Radu lebih cepat dari perkiraan. Masalah ada di jantung pertahanan. Sejauh ini, Petkovic tidak puas dengan penampilan duet Andre Dias dan Giuseppe Biava yang dinilainya terlalu lamban untuk turun ke bawah setelah membantu serangan.

Sebaliknya, Petkovic puas dengan performa Modibo Diakite, hingga Igli Tare hanya perlu mencari satu tambahan bek tengah untuk tandemnya. Xandao awalnya menjadi target dan harga pembelian serta gaji telah disepakati. Pembicaraan final terhenti karena Lotito enggan memberikan komitmen fee 10% bagi Sporting Lisbon atas penjualan Xandao di kemudian hari.

Maka Lotito berinisiatif menemui sahabatnya, Presiden Genoa, Preziozi, untuk meminjam bek timnas Swedia, Andreas Granqvist, dan memasukkan kiper Juan Pablo Carrizo dalam paket kesepakatan. Pada titik ini, sebelah kaki Granqvist boleh dibilang telah menjejak di Formello. Semua menjadi berantakan ketika Carrizo menolak hijrah ke Genoa karena enggan berkompetisi dengan kiper Sebastien Frey. Maka, Genoa pun segera menaikkan harga peminjaman Granqvist dan harga opsi pembeliannya musim depan. Dapat diguga, Lotito pun menolak kenaikan banderol Granqvist. Kembali ke titik nol.

Kontrak Diakite
Kerumitan bertambah dengan Diakite. Pemain berusia 25 tahun ini menolak menandatangani perpanjangan kontraknya selama 5 tahun dengan gaji 650.000 euro per musim. Maka ultimatum manajemen Lazio segera dilayangkan bagi Diakite: segera tandatangani perpanjangan kontrak, atau dijual! Kontrak Diakite berakhir Juni 2013, dan jika tidak diperpanjang maka akhir musim ini Diakite menjadi pemain bebas, dan Lotito kehilangan potensi pemasukan transfer Diakite. Tenggat waktu berlalu, Diakite dikabarkan tetap bergeming menuntut kenaikan gaji agar setara dengan gaji Dias. Dikabarkan, AC Milan dan Juventus bersiapmemanfaatkan situasi Diakite dengan menawari gaji yang lebih besar.

Play off Liga Eropa akan berlangsung sepekan lagi, dan kick off Serie-A TIM 2012/2013 dalam 10 hari ke depan. Jendela transfer tersisa dua pekan lagi. Masalah lini belakang Lazio tetap belum terselesaikan. Maka Tare harus berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan ini. Memenuhi permintaan Diakite tampaknya agak susah dilakukan Lotito. Bagi Sang Presiden, ini kesempatan terakhir memperoleh keuntungan finansial dari penjualan Diakite.

Butuh Tambahan Dua Bek?
Jika kompromi dicapai dengan Diakite, maka Tare hanya perlu mendatangkan satu bek tengah. Dengan membuka kembali pembicaraan tentang Granqvist atau Xandao. Tetapi jika Diakite dijual, maka mungkin Tare harus memasok dua bek tengah sekaligus untuk Petkovic. Atau, satu bek tengah dan satu bek kiri, karena Radu juga dapat difungsikan sama baiknya sebagai bek tengah, sementara menempatkan Senad Lulic di bek kiri adalah tindakan mubazir, mengingat Lulic lebih optimal bermain di belakang striker.

Tare harus berpacu dengan waktu, dan Lotito sekali-sekali harus bersikap sebagai Laziale, bukan hanya sebagai pedagang. Pesan ultras Curva Nord Olimpico yang disampaikan lewat cemoohan saat laga uji coba melawan Getafe cukup jelas. Tare dan Lotito harus mendengarkan tuntutan Ultras lazio ini.

Selasa, 17 Juli 2012

Calcio Mercato Di Tengah Badai Euro


Calcio Mercato Di Tengah Badai Euro
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012
Krisis keuangan yang diawali dari krisis hutang Yunani akhirnya menyebar ke seluruh Eropa, terutama negara-negara Zona Euro. Bagi negara bukan pengguna matauang euro, seperti Inggris, juga tak luput dari dampak ini karena eratnya kesalingtergantungan ekonomi di antara mereka. Yunani, Italia, Turki dan Spanyol termasuk yang paling parah, sementara Jerman dan Prancis relatif memiliki daya tahan moneter yang lebih kuat.

Hal ini juga sangat memengaruhi liga-liga sepakbola utama Eropa. Lega Calcio dan La Liga sangat terpukul dengan situasi ini. Kerusakan Ligue 1, Bundesliga dan BPL relatif lebih ringan, meskipun tetap saja berpengaruh signifikan. Terjadi penurunan keuangan yang drastis bagi klub-klub utama dari liga-liga utama Eropa ini.

Financial Fair Play
Badai kedua adalah, secara kebetulan musim 2012/2013 ini adalah musim pertama mulai diberlakukan ketentuan Financial Fair Play (FFP) oleh UEFA. Ketentuan ini mensyaratkan laporan keuangan (income statement) poisitif bagi klub-klub Eropa, artinya pengeluaran klub tidak boleh lebih besar daripada pemasukannya. Pelanggaran atas ketentuan ini dapat berakibat dilarangnya klub mengikuti kompetisi Eropa, baik Liga Champions maupun Liga Europa, di musim 2013/2014 mendatang.

Selama ini kita menyaksikan dalam debat-debat antartifosi yang membangga-banggakan kekayaan pemilik klub, khususnya pada saat bursa transfer berlangsung. Kita sering melihat kebanggaan Milanisti yang karena Silvio Berlusconi adalah orang terkaya di Italia, atau Interisti yang memuja-memuji Massimo Moratti sebagai pengusaha minyak sukses yang selalu jor-joran dalam membeli pemain. Kini kebanggaan-kebanggaan tadi sama sekali tak berarti. Kini semua itu hanya “pepesan kosong”.

Klub sepakbola profesional harus berbentuk perseroan terbatas (SpA) yang keuangannya dibatasi oleh ketentuan sebagai badan usaha yang tersendiri, terpisah dari keuangan pemegang saham (pemilik). Dua raksasa kota Milano misalnya, selama ini dapat merekrut bintang-bintang besar dengan nilai transfer aduhai dan gaji setinggi langit, semata-mata karena aliran dana masuk dari pemegang saham utama mereka, Berlusconi dan Moratti. Sebagai sebuah PT pemasukan ini harus dibukukan sebagai Hutang Kepada Pemegang Saham. Akibatnya dari tahun ke tahun laporan keuangan kedua klub ini selalu merah alias defisit. Inilah yang dilarang oleh ketentuan FFP di atas. Akhir musim ini, tidak boleh ada angka merah lagi, hutang-hutang ini harus dilunasi dengan pemasukan sah dari klub, baik dari penjualan atau peminjaman pemain, pemasukan sponsor atau hak siaran televisi, dan penjualan karcis pertandingan. Dari data konsultan keuangan independen Deloitte per akhir 2011, hanya tiga klub Serie-A yang membukukan surplus keuangan: Juventus, Lazio dan Napoli. Lainnya defisit.

Kencangkan Ikat Pinggang Dan Cuci Gudang
Indikasi pertama yang dapat kita saksikan adalah pada calcio mercato musim panas (1 Juli – 31 Agustus 2012) ini. Yang pasti, harga transfer pemain cenderung merosot tajam. Tak terbayangkan, pemain sekualitas Burak Yilmas misalnya hanya memiliki banderol 5 jutaan euro, dan itupun masih kesulitan mendapatkan klub yang mau mentransfernya.

Indikasi kedua adalah eksodus pemain-pemain bintang dari liga yang negaranya terkena dampak krisis keuangan terberat. Lega Calcio kehilangan banyak bintangnya di bursa transfer. Tak kurang dari Ibrahimovic, Thiago Silva, Maicon, Nesta, Van Bommel, Borini dan banyak lagi. Sementara pemain-pemain sekelas Sneijder, Julio Cesar dan beberapa lainnya segera menyusul. Sikap mirip department store yang “cuci gudang” ini dipicu semata-mata masalah finansial. Memperpanjang kontrak sama artinya dengan pengeluaran, apalagi para pemain tadi bergaji luar biasa, rata-rata di atas 3 juta euro per musim, bahkan beberapa di atas 5 juta euro. Penjualan atau peminjaman pemain sebelum masa konrak berakhir juga berarti pemasukan uang yang berguna untuk menambal defisit.

Indikasi ketiga adalah tiada bintang baru yang masuk ke Serie-A. Kalaupun membeli pemain baru, maka dipilih pemain medioker dengan gaji tidak tinggi, atau memromosikan pemain muda dari lingkungan Primavera. Inter misalnya, banyak mengambil pemain belia mereka dari tim yang menjuarai Primavera musim lalu serta mempertahankan pelatih miskin reputasi mereka yang bergaji tidak tinggi, Stramaccioni. Pertimbangan serupa juga dilakukan tatkala memutuskan merekrut Handanovic yang bergaji hanya sepertiga gaji Julio Cesar. Pendeknya, semua melakukan pengetatan anggaran, kencangkan ikat pinggang. Semua karena krisis keuangan dan, terutama, karena FFP yang segera berlaku.

Berakit Ke Hulu Ala Lotito    
Bagaimana dengan Lazio? Tentu saja imbas krisis keuangan Eropa juga dirasakan Tim Pertama Ibukota ini. Tak ada yang tak merasakan. Tetapi posisi Lazio relatif lebih “santai” dibandingkan klub-klub besar lainnya sehubungan dengan ketentuan FFP. Ini tidak lain karena Claudio Lotito telah menerapkan kebijakan keuangan “harus surplus” dan “anti berhutang” sejak dirinya mengambil alih mayoritas saham Lazio 2004 silam. Sejak akhir musim 2004/2005 hingga kini Lazio telah memenuhi ketentuan FFP. Apalagi Lazio adalah klub Lega Calcio pertama yang mendeklarasikan diri sebagai perusahaan terbuka dan memperjual-belikan sepertiga sahamnya di Borsa Italiana (Bursa saham Italia), selain Juventus dan Roma yang mengikutinya di kemudian hari. Kebijakan keuangan yang sehat adalah mutlak bagi perusahaan publik

Lotito memang sering menjengkelkan Laziali dengan “kepelitannya”. Hemat berbelanja pemain, tak ragu menjual pemain bintang jika menguntungkan secara ekonomi (misalnya Kolarov), berencana menyewa stadion yang lebih murah daripada sewa Olimpico musim depan. Tetapi kini Lazio memiliki akumulasi surplus keuangan yang cukup besar untuk memulai musim 2012/2013. Sungguhpun demikian, Lotito tetap menjaga pendekatan konservatisme dalam keuangan. Tidak jor-joran membeli pemain, memilih Petkovic yang bergaji hanya sekitar 600.000 euro per musim, bahkan sedang berancang-ancang pula untuk “menyunat” gaji Mauro Zarate.

Lazio tidak kehilangan satupun pemain musim ini kecuali Del Nero yang habis kontraknya. Dengan rencana Petkovic hanya memakai 24-27 pemain di tim utama maka Lazio akan memiliki sekitar 20 pemain siap jual atau pinjam. Menjual pemain jelas memberikan kas masuk. Demikian juga meminjamkan pemain, yang selama ini terbukti memberikan andil sekitar 10-12% dari pemasukan Lazio.

Di saat sebagian rival mengalami kegalauan dengan keuangan dan kehilangan sebagian kekuatannya musim ini, Lazio siap menghadapi musim di bawah gelora badai keuangan Eropa dan ketatnya ketentuan FFP dari UEFA. Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke Formello. Avanti Lazio!