Tampilkan postingan dengan label zarate. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label zarate. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Oktober 2012

Berpijaklah di Bumi, Kompetisi Baru Akan Dimulai


Berpijaklah di Bumi, Kompetisi Baru Akan Dimulai
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012

foto dari http://newnotizie.it
Perjudian Lotito dengan mengangkat Petkovic untuk menggantikan Reja memberikan hasil positif, sejauh ini. Di Serie A, Petkovic berhasil menempatkan Lazio di jajaran elit, sama halnya dengan Reja musim lalu. Keduanya sama-sama berhasil menempatkan Lazio di posisi tiga besar setelah memainkan 7 laga. Pada titik yang sama, Reja mencatat 14 poin dari 4 menang, 2 seri, 1 kalah. Petkovic membukukan 15 poin dari 5 menang, 2 kalah. Bedanya, saat itu Reja telah menghadapi 2 tim kuat, seri melawan Milan dan menang atas Roma. Petkovic baru menghadapi satu tim kuat, Napoli, dan kalah. Keduanya pun menelan kekalahan atas Genoa di Olimpico.

Perbedaan cukup signifikan, sejauh ini terjadi di Liga Europa. Sama-sama melenggang mudah melewati play off. Reja mengoleksi 1 poin hasil seri lawan Vaslui dan kalah dari Sporting Lisbon. Petkovic membukukan 4 poin hasil menahan Tottenham Hotspurs dan mengalahkan Maribor, menempatkan Lazio di puncak Grup J.

Mesin Yang Sama
Sesungguhnya Petkovic memang tidak membawa revolusi di Lazio. Tim inti yang dimainkannya relatif tim yang sama dengan tim Reja musim lalu. Minus Djibril Cisse, pemain tambahan semacam Ciani, Ederson, Zarate dan Floccari tetap berada di luar tim inti Petkovic sejauh ini. Pola 4-2-3-1 yang dijalankan Reja, dilanjutkan oleh Petkovic. Berbeda dengan Reja yang secara rigid menerapkan pola ini, Petkovic lebih fleksibel, sehingga sepanjang pertandingan pola ini beralih ke 4-1-4-1 atau 4-3-3 sesuai keadaan. Petkovic memberikan perhatian khusus agar pemainnya mendominasi penguasaan bola dan tekanan kepada lawan.

Pendeknya, Petkovic menjalankan mesin yang sama dengan Reja, tetapi kini mesin tersebut telah diberi pelumas cukup sehingga lebih lancar jalannya. Hal-hal baik yang ditinggalkan Reja dilanjutkan, yang kurang, diperbaikinya.

Figur penting Lazio saat ini terletak pada sosok Alvaro Gonzalez, yang bahu-membahu dengan Ledesma untuk membantu pertahanan saat Konko dan Lulic naik membantu penyerangan. Gonzalez juga mengambil-alih sebagian tugas Ledesma sebagai jangkar antara lini belakang dan tengah sehingga memungkinkan Ledesma selalu pada posisi yang lebih dalam untuk mengantisipasi serangan balik lawan.

Oleh Petkovic, Hernanes diberikan keleluasaan cukup untuk bergerak secara vertikal untuk sesekali turun membantu pertahanan, sekaligus menjemput bola. Petkovic berhasil mengeksploitasi kelebihan Hernanes dalam menggalang serangan yang efektif dari kedalaman. Mauri dan Candreva diberi kebebasan penuh untuk mengeksplorasi ruang yang lebih luas, menguasai bola sambil menunggu Konko dan Lulic naik. Pergerakan ini mampu memberikan Klose ruang dan waktu untuk mengambil poisisi yang tepat dan mengkonversi peluang menjadi gol. Tetapi kunci utama keberhasilan Lazio saat ini adalah pada Dias dan Biava. Konsistensi mereka, dan kerentanan duet ini dari cedera akan sangat menentukan  perjalanan Lazio musim ini.

“Plan B”
Sejauh ini taktik Petkovic terbukti cukup ampuh dalam menghadapi tim-tim lemah seperti Mura, Atalanta, Palermo, Chievo, Siena, Maribor dan Pescara. Kecuali Genoa. Dengan catatan, Siena dan Maribor mampu membuyarkan dominasi permainan Lazio. Tetapi taktik Petkovic terbukti sama sekali tidak berjalan saat menghadapi Napoli. Tidak ada alasan pembenar sama sekali dari kekalahan 0-3 di San Paolo. Dan akan sangat berbahaya untuk menganggap kekalahan dari Genoa sebagai sebuah ketidakberuntungan, karena persoalannya justru terletak pada Lazio sendiri.

Laga lawan Genoa memberikan banyak pelajaran. Petkovic melakukan perubahan drastis pada pola permainan dengan menduetkan Zarate dan Kozak di ujung tombak pada skema 4-4-2. Inilah “Plan B” Petkovic. Pelatih Genoa, Gigi De Canio, mengatakan suatu hal yang penting usai laga. Dia menghitung, tak kurang dari 23 peluang didapat Lazio, tapi tak lebih dari 5 di antaranya yang cukup berbahaya. Penguasaan bola dan penciptaan peluang ternyata belum cukup untuk mengkonversi sebuah kemenangan. De Canio tahu ini, dan saya yakin, Petkovic lebih tahu lagi. Lalu, apakah “Plan B” harus segera dilupakan?

Petkovic tidak mungkin terus-menerus mengandalkan tim intinya sepanjang musim, dan tak mungkin terpaku pada pola yang sama untuk menghadapi semua lawannya. Dengan segala hormat harus dikatakan bahwa pola Petkovic ternyata tidak berjalan mulus saat menghadapi tim kuat  seperti Napoli, dan selama dua pekan liburan ini adalah kesempatan terbaik yang dimilikinya untuk mematangkan “Plan B” tersebut. Tidak hadirnya pemain seperti Klose, Lulic, Gonzalez, Candreva dan Cana pada periode ini justru dapat dimanfaatkan untuk mematangkan pemain lainnya.

Memanfaatkan Liburan
Lini belakang sementara cukup aman dengan kembalinya duet Dias-Biava pada bentuk permainan terbaiknya. Radu yang segera kembali, makin bersinarnya Cavanda, hadirnya Ciani dan sembuhnya Stankevicius memberi harapan. Lini tengah sementara ini juga memadai. Ederson terbukti mampu memecahkan kebuntuan  pada dua laga di mana dia menjadi starter. Masalahnya, kita harus menerima kenyataan bahwa mungkin Ederson akan berada di ruang perawatan sebanyak dia berada di lapangan.

Di lini depan Petkovic mau tak mau hanya menumpukan harapan pada Klose. Zarate dan Floccari masih berada di bawah bayang-bayang masa kejayaannya sendiri. Liburan dua pekan ini mungkin saat yang tepat untuk memaksimalkan peran Kozak sebagi penyerang tunggal. Betapapun dia menerima kritik saat laga lawan Genoa, Kozak menunjukkan bahwa dia mampu lebih membahayakan gawang lawan dibandingkan Floccari, apalagi Zarate.

Ujian Sesungguhnya Segera Datang
Usai liburan ini, ujian sesungguhnya segera datang. Lazio akan menghadapi lawan-lawan sekelas Napoli dalam enam pekan ke depan: Milan, Fiorentina, Roma, Juventus dan Catania, serta laga tandang-kandang melawan Panathinaikos, dan menjamu Tottenham Hotspurs di Liga Eropa. Di sinilah ujian sesungguhnya bagi Petkovic, apakah dia hanya akan mencapai sejauh yang dicapai Reja, melebihinya, atau justru lebih buruk daripada Reja.

Di antara semua lawan tersebut, laga melawan Milan 20 Oktober 2012 nanti akan sangat strategis bagi Lazio. Dengan Juventus berhadapan dengan Napoli pada pekan yang sama, maka kemenangan melawan Milan akan memperkecil jarak dengan keduanya, karena minimal salah satu di antara Juventus dan Napoli pasti akan kehilangan poin. Milan memang sedang terpuruk, tetapi itu justru harus diwaspadai. Max Allegri tentu akan berusaha sekuat tenaga agar laga melawan Lazio di Olimpico nanti tidak menjadi sebuah pesta perpisahan bagi dirinya dan Serie A musim ini.

Petkovic tentu tak ingin sejarah Lazio musim lalu berulang, bersinar di awal dan banyak kehilangan poin penting di perjalanan. Dan dia benar ketika mengatakan Lazio harus tetap berpijak di bumi. Karena kompetisi sesungguhnya baru akan dimulai.

Senin, 08 Oktober 2012

Zarate Sekali Lagi


Zarate Sekali Lagi
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012

foto dari http://lalazio24.it
Mauro Zarate sekali lagi menjadi bahan berita di Lazio. Pelatih Petkovic tidak memasukkannya ke dalam skuad yang didaftarkan untuk laga terakhir menjelang kompetisi diliburkan, melawan Pescara. Tidak ada keterangan resmi tentang sebab sebenarnya, tetapi yang pasti itu karena masalah non-teknis, karena Zarate sehat wal afiat dan dalam kondisi fisik baik hingga menit terakhir di latihan terakhir.

Tanda tanya makin membesar tatkala Igli Tare tiba-tiba mengadakan rapat tertutup dengan agen Zarate, Luis Ruzzi di Formello tak lama kemudian. Tak sepatah katapun keluar dari kedua orang ini kepada wartawan. Petkovic pun tak mengungkap kejadian sesungguhnya, namun berkata penuh makna, “Zarate? Saya menyayangkan bahwa dia terpaksa tidak diikutkan ke Pescara, yang penting bagi saya adalah kepentingan tim, bukan kepentingan pribadi pemain secara individual.”

Zarate memang pribadi yang penuh kontroversi, padahal tak seorangpun yang meragukan bakat besar yang dimilikinya. Itulah sebabnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di Formello, Zarate segera menjadi pemain kesayangan fans Lazio. Zarate memiliki semua persyaratan teknis untuk menjadi seorang bintang besar kecuali, mungkin, sikap dan kepribadiannya.

Zarate “Baru” di Awal Musim
Awal musim ini muncul harapan besar dari Laziali ketika Zarate kembali dari liburan dengan semangat baru untuk kembali memperkuat Lazio usai menjalani setahun peminjaman yang penuh kesedihan di Inter. Saat Lotito dan Tare memasukkan namanya di calcio mercato, Zarate justru berhasil meyakinkan dan membuat Petkovic jatuh hati. Dan pelatih asal Bosnia inipun memasukan namanya dalam skuad intinya. Namun sayang, tak berlangsung lama.

Beberapa pengamat mulai melihat keganjilan tentang Zarate saat laga melawan Genoa di Olimpico, di mana Zarate diduetkan dengan Kozak. Keduanya memang bermain buruk saat itu, tetapi kemarahan Petkovic terlihat ketika Zarate mengabaikan instruksinya agar Zarate bermain lebih dalam dan memberikan tempat yang lebih luas bagi Kozak di depan. Dan ketika menjamu Maribor tengah pekan lalu, Zarate terlihat enggan ketika dimasukkan pada menit 84 menggantikan Alvaro Gonzalez, dan bermain “ogah-ogahan”.

Ketika latihan terakhir menjelang laga lawan Pescara usai, tanpa sepatah katapun Petkovic menyerahkan daftar skuad yang akan di bawa kepada Tommaso Rocchi. Zarate segera meninggalkan Formello tanpa bicara setelah mengetahui namanya tak ada di situ. Dan tak lama kemudian, Zarate mengganti foto profil pada akun twitternya dengan kostum nomor 10-nya (kostum lama Puma), yang tergeletak di atas bangku ruang ganti Formello berwarna oranye. Tanpa keterangan apapun. Multi interpretatif, tetapi jelas menunjukkan kekecewaan Zarate.

Tujuh Pelatih
Pemain besar biasa berulah. Itu wajar. Tapi ada dua pertanyaan. Pertama, cukup “besar”-kah Zarate untuk berulah? Kedua, Zarate selalu bermasalah siapapun pelatihnya. Tercatat dengan enam pelatih sudah Zarate tidak dapat menyesuaikan dirinya. Rossi, Ballardini dan Reja di Lazio serta Gasperini, Ranieri dan Stramaccioni di Inter. Dan sekarang Petkovic. Tampaknya kini Zarate hanya memiliki dua opsi: patuh pada Petkovic atau dimasukkan mercato Januari nanti. Zarate harus belajar banyak dari Rocchi, yang tetap berkontribusi bagi tim walau hanya dari bangku cadangan.

Senin, 24 September 2012

Kekalahan Yang Dinantikan


Kekalahan Yang Dinantikan
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012

foto dari http://eurosport.se
Pada artikel saya usai Lazio menyisihkan Mura dari Liga Europa dan mengalahkan Palermo pada giornata kedua Serie-A, saya menuliskan bahwa lambat atau cepat Lazio akan mengalami kekalahan. Dan saya menantikan kekalahan itu. Hal itu terwujud secara cepat, tadi pagi Lazio dikalahkan Genoa 0-1 dihadapan Olimpia sang maskot dan puluhan ribu Laziali di curva nord Olimpico.

Tidak ada tim yang tak pernah kalah, dan bagi yang bermental juara kekalahan adalah pelajaran berharga, bukan ajang mencari alasan dan pembenaran-pembenaran atas kesalahan yang dilakukan. Kekalahan “tak layak” atas Genoa akan menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak: pemain, manajemen dan pendukung. Dan terutama bagi pelatih Petkovic. Dan ternyata The Doctor memberikan reaksi yang positif, tidak mencari-cari kambing hitam, mengakui kekurangan timnya serta memberikan selamat kepada Genoa.

Catenaccio
Bukan itu saja yang saya harapkan dari Petkovic dalam menyikapi kekalahan pertamanya sebagai pelatih Lazio. Saya berharap Petkovic akan memetik pelajaran berharga dari kejadian ini. Pola menyerang yang diterapkannya memang mulai menunjukkan hasil. Lazio bermain sangat agresif dan menguasai jalannya pertandingan. Tetapi tadi pagi Petkovic dihadapkan pada pola klasik sepakbola Italia yang paling terkenal: pertahanan gerendel alias catenaccio.

Catenaccio terbukti berkali-kali mampu menjadi anti-tesa dan menjinakkan permainan indah dan menyerang baik di tingkat klub maupun tim nasional. Barcelona yang termahsyur dengan sepakbola indah dan menyerang ala tiki-taka beberapa kali menelan pil pahit saat menghadapi tim Italia atau yang dilatih oleh orang Italia yang menerapkan catenaccio. Di Serie-A, Luis Enrique terbukti pontang-panting menghadapi pola negatif sepakbola Italia dengan strategi tiki-taka, menyerang dan mencoba mengendalikan laga. Sebaliknya, Edy Reja yang pragmatis dan menguasai benar teknik catenaccio dapat meraih keberhasilan yang lebih baik.

Saya tak mengharapkan Petkovic menerapkan pola sepakbola negatif. Pelatih asal Bosnia inipun telah menegaskan bahwa dia akan konsisten menerapkan pola menyerang dan tetap berusaha mendominasi tiap laga. Tetapi dia pasti sadar, bahwa menyerang, menyerang dan mendominasi laga belum tentu menjamin kemenangan jika menghadapi catenaccio. Petkovic pelatih cerdas, bukan pelatih pandir macam Luis Enrique. Tentunya Petkovic akan berusaha memadukan sepakbola menyerang yang efektif menghasilkan gol. Saya yakin, Petkovic akan segera menemukan terapi manjur dalam sepakbola indah dan menyerangnya yang dapat mematikan gerendel Italia. Kemenangan Genoa tadi pagi akan menjadi inspirasi bagi klub-klub lain di Italia untuk menerapkan pola serupa saat menghadapi Lazio. Jadi Petkovic harus segera menemukan formula yang tepat untuk itu.

Pelajaran untuk Mercato
Pelajaran berharga juga didapat Lotito, Tare dan jajaran manajemen Lazio. Selama ini mereka terselamatkan dengan rangkaian kemenangan Lazio, walaupun praktis Petkovic menggunakan materi pemain yang sama dengan materi musim lalu. Ketika dihadapkan pada jadwal ketat dan rotasi pemain menjadi keharusan, maka terbukti bahwa materi Lazio musim lalu belum cukup kuat untuk berpacu menggapai scudetto. Ketika Kozak dan Zarate diberi beban tanggung jawab, maka terlihat bahwa kedua pemain pelapis ini tak mampu menggantikan fungsi Klose dan Mauri dengan sama baiknya. Begitu juga dengan Scaloni yang belum berhasil membuktikan dirinya mampu menjadi pelatih Konko yang andal.

Intinya, kekalahan pertama Lazio musim ini semoga membuka mata Lotito dan Tare bahwa kebijakan transfer pemain yang berpihak pada peningkatan kualitas tim adalah mutlak perlu. Dan mereka harus ingat bahwa hingga kini lawan sepadan Lazio yang pernah dihadapi barulah Tottenham Hotspurs. Di Serie-A, empat lawan yang telah dihadapi Lazio adalah tim-tim yang memang kelasnya tidak lebih baik dari Biancocelesti. Lazio belum lagi menghadapi tim-tim sekelas Juventus atau Napoli. Calcio mercato musim dingin, Januari 2013 nanti, harus dimanfaatkan betul-betul untuk melepas pemain yang kurang memberikan kontribusi signifikan dan memasukkan pemain yang kelasnya mampu untuk membuat perubahan positif di tubuh Lazio.

Bagi pemain Lazio, kekalahan atas Genoa akan membuat mereka berpijak di bumi, tidak percaya diri secara berlebihan dan meremehkan lawan. Begitu pula bagi fans Lazio, kekalahan menyakitkan tersebut akan membuat Laziali menhentikan euforia yang terlalu dini dan memberi kesadaran bahwa Lazio masih perlu banyak melakukan perbaikan, belum menjadi tim terkuat di Italia. Lazio dapat kalah. Dan saya yakin, kekalahan dari Genoa bukan kekalahan terakhir Lazio di musim ini. Tetapi semoga kekalahan ini menjadi “obat”. Dan obat memang pahit, tetapi menyembuhkan dan menyehatkan.

Selebihnya, optimisme tetap ada di tim ini. Saya yakin Petkovic akan mampu membangkitkan pasukkannya dari kekalahan. Tim besar bukanlah tim yang tidak pernah kalah. Tim besar adalah yang setelah kalah, mampu segera bangkit kembali, belajar dari kekalahan dan menjadi lebih baik. Avanti Lazio!

Rabu, 05 September 2012

The Doctor yang Memberi Asa


The Doctor yang Memberi Asa
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012
foto: http://lazioland.com
Sedikit sekali yang diketahui tentang Vladimir Petkovic saat Lotito melakukan “perjudian” dengan menunjuknya menjadi pelatih Lazio menggantikan Reja, Juni 2012 lalu. Bermain di klub-klub tak ternama ketika menjadi pemain dan menghabiskan hampir seluruh karirnya sebagai pelatih di Swiss. Sion, Young Boys atau Lugano jelas bukan klub yang menjadi pemberitaan luas. Yang diketahui dari pria berusia 49 tahun ini, saat itu, hanyalah fanatismenya pada sepakbola menyerang dan pola agresif 3-4-3 yang menjadi favoritnya.

Pelatih luar Italia, yang sama sekali belum berpengalaman di Lega Calcio baik sebagai pemain maupun pelatih, dengan konsep baru, saat itu mengingatkan saya pada sosok Luis Enrique yang menangani AS Roma dan membawa bencana bagi klubnya dengan memaksakan “tiki taka” ala Barcelona di Serie-A.

Kekhawatiran ini seakan menemukan kenyataannya ketika Lazio menderita kekalahan beruntun pada uji coba pra-musim. Sangat dimaklumi jika ultras curva nord Olimpico mengejeknya pada saat presentasiresmi tim jelang uji coba keempat melawan Getafe yang kembali berakhir dengan kekalahan pasukan biru langit.

Pada titik ini Petkovic bergeming dan tetap mengekspresikan optimismenya seraya mengatakan bahwa uji coba adalah saatnya melakukan assessment atas pasukannya, mencoba mengenal karakter para pemain yang sama sekali belum dikenalnya, kecuali Senad Lulic, serta melakukan eksperimen untuk menemukan pilihan terbaik yang tersedia.

Petkovic Bukan Enrique
Ternyata, Petkovic bukanlah Enrique yang bersikukuh dengan pola idamannya. Menyadari bahwa stok pemain yang ada tidak memungkinkan bermain 3-4-3 yang efektif, Petkovic segera melakukan koreksi yang akhirnya bertumpu pada 4-3-3 dengan satu striker murni dan dua pemain tengah yang menjadi pseudo striker yang sesungguhnya merupakan modifikasi pola 4-2-3-1. Atau kembali pada pola yang sering dimainkan Reja di putaran pertama musim lalu, 4-3-1-2. Stefano Mauri mendeskrpsikan Petkovic dengan tepat, “Dia membawa perubahan, tetapi bukan revolusi.” Lalu apa yang berubah pada Lazio?

Dua setengah musim kita terbiasa dengan ramuan Reja. Bermain pragmatis dengan bola-bola panjang dan cenderung memainkan sepakbola negatif. Reja memang pragmatis, dia tidak memerdulikan penguasaan bola, keindahan sebuah pertunjukan, dan sampai tahap tertentu, Lazio seringkali tidak bermain sebagai sebuah kesatuan unit. Dan toh, Reja tidak gagal. Dua musim selalu menempatkan Lazio di papan atas dan di zona Eropa serta memenangi dua derby terakhir.

The Doctor, the Counsellor
Petkovic memiliki banyak hal yang mendukung karirnya di Formello. Kecerdasan, karakter yang kuat, figur karismatis dan fasih berbicara 7 bahasa termasuk Bahasa Italia. Petkovic dijuluki The Doctor karena ketelitiannya dan kemampuannya melakukan counselling pada semua pemainnya. Dia sangat memerhatikan tiap pemainnya. Di Auronzo, Petkovic meluangkan waktu hampir dua jam berbicara empat mata dan mengembalikan kepercayaan diri Mauri yang baru saja mengalami kasus pengaturan skor yang dituduhkan jaksa, bahkan seminggu mendekam di tahanan. Hal serupa dilakukannya terhadap Klose yang mengalami kebimbangan setelah kembali dari liburannya usai memperkuat Jerman yang gagal di Euro 2012. Zarate yang arogan dan “bengal” mendapatkan perlakuan berbeda, keras dan tak jarang dimarahi di lapangan latihan ketika naluri individualisnya muncul. Saat Lazio telah unggul 3-0 atas Mura, Zarate yang diturunkan sebagai striker, diperintahkan Petkovic untuk menjadi gelandang bertahan untuk menanamkan padanya bahwa dia bagian dari tim yang harus mau mengorbankan egonya. Mauri, Klose dan Zarate memberikan apresiasi tinggi pada The Doctor ketika berbicara kepada media.

Pada sisi taktis, Petkovic mementingkan penguasaan bola semaksimal mungkin, meminta pemainnya segera melakukan tekanan begitu kehilangan bola. Hernanes dikembalikan ke posisi semula di Sao Paolo dan timnas Brasil sebagai jenderal lapangan tengah dan tidak lagi sebagai trequartista. Lambat tetapi pasti, Lazio bermain sebagai sebuah kesatuan unit, bukan lagi sebagai sebelas orang yang berjuang sendiri-sendiri di lapangan. Permainan Lazio secara perlahan berubah dari permainan sepakbola negatif menjadi tim yang agresif, lebih menanfaatkan serangan lewat sayap. Lazio lebih enak untuk ditonton.

Berpijak di Bumi
Dengan tetap berpijak di bumi, Petkovic sendiri mengakui bahwa timnya belum sempurna dan fenomenal. Masih banyak yang harus diperbaiki. Petkovic tak hendak terlarut dalam euforia prematur setelah memenangi empat laga resmi pertamanya. Bagaimanapun, Mura, Atalanta dan palermo bukan lawan sebenarnya. Lazio masih harus membuktikan diri saat menghadapi tim sekelas Juventus, Milan ataupun Napoli di Serie-A dan selevel Tottenham Hotspurs serta Panathinaikos di Liga Eropa. Perjalanan masih panjang, pembuktian Petkovic belum usai dan pekerjaan rumahnya masih menumpuk.

Terlalu dini saat ini untuk mengatakan bahwa Lazio adalah kandidat kuat pemegang scudetto. Pada titik ini, terlalu naif untuk mengatakan bahwa Lazio telah sempurna. Lambat atau cepat kekalahan pasti datang, dan pada saat itulah kepiawaian Petkovic untuk membangkitkan kembali semangat timnya akan diuji. Tetapi fakta bahwa dari satu laga ke laga berikutnya Lazio mampu bermain lebih baik, memberikan suatu harapan bahwa suatu saat bukanlah hal aneh untuk mengatakan bahwa Lazio adalah tim terbaik di Italia. Kalaupun bukan musim ini, musim depan berpeluang besar menjadi musim milik The Doctor. Semoga!

Selasa, 21 Agustus 2012


Menurut Delio Rossi, Lazio Belum Lengkap
Dalam perbincangannya di Radio Mana Mana Sport, mantan allenatore Lazio yang saat ini menjadi pengangguran, Delio Rossi mengatakan bahwa Lazio saat ini belum lengkap.

“Lazio adalah tim yang kuat, tetapi saat ini belum lengkap. Kita harus menunggu hingga hari terakhir bursa transfer saat segala sesuatunya tidak akan berubah lagi. Tidak dapat menilai sekarang saat sekelompok pemain mengikuti pelatihan pra-musim, tetapi beberapa di antaranya tidak akan bergabung lagi karena akan dijual.

Petkovic? Kalau Lazio menunjuk Petkovic sebagai pelatih hanya berdasarkan daftar riwayat hidupnya, itu adalah sebuah perjudian. Kita baru dapat mengevaluasi pelatih setelah musim pertamanya berakhir.”

Delio Rossi juga ditanya tentang beberapa pemain yang ada di skuad Lazio saat ini.

Hernanes adalah pemain yang telah membuktikan dirinya memiliki kualitas yang penting, dia harus dapat digunakan secara tepat agar mampu mengangkat keseluruhan tim.Matuzalem? Masalahnya adalah dia terlalu banyak membuat ‘musibah’. Ledesma selalu tampil sempurna dalam tiap laga, bersama saya dia menampilkan sikap yang profesional; walaupun dia pernah harus menanggung akibat dari sikapnya yang salah (catatan: Rossi menyitir perseteruan Ledesma dengan Lotito yang membuat kontraknya sempat dibekukan).”

Zarate? Dari satu sisi dia adalah yang terbaik. Masalah utamanya adalah, dia bagus dalam satu aspek, tetapi tidak mau belajar untuk menjadi bagus di aspek-aspek yang lain. Kalau seorang pemain mampu melakukan A, maka dia juga harus mampu dan mau melakukan B dan C. Kalau dia hanya mau melakukan A, maka karirnya akan menghadapi masalah besar.”

Kayaknya Opa Rossi ngarep jadi pelatih Lazio lagi nih. Bosen jadi pengangguran ya Opa?

(aslinya ditulis oleh Giannino Capaldi dari Lazioland)

Jumat, 20 Juli 2012

Zarate Di Puncak Agudo


Zarate Di Puncak Agudo
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012
Hari kesepuluh pelatihan pra-musim di camp Auronzo di Cadore, Petkovic mengadakan program istimewa. Kamis, 19 Juli 2012 siang, usai paginya digenjot latihan taktik, Ledesma dan kawan-kawan diharuskan menjalani latihan fisik dan mental yang cukup berat: mendaki menuju puncak Gunung Agudo. Petkovic ingin melihat kemampuan fisik, daya tahan dan determinasi mental para pemain.

Para pemain tidak diperkenankan berjalan santai dan istirahat sama sekali terlarang. Mereka harus berjalan cepat dan berlomba untuk menjadi yang pertama mencapai puncak. Petkovic dan stafnya tentu tak harus ikut bersusah payah, mereka menuju puncak dengan kereta kabel. Dan pemain pun akan menggunakan kereta kabel saat menuruni Agudo, plus hidangan nikmat apple strudel untuk menemani perjalanan kembali ke camp menyusuri lereng gunung yang indah.

Di luar dugaan semua orang, pemain pertama yang mencapai pucak adalah Mauro Zarate. Rupanya, Zarate tak henti-hentinya memikat hati pelatih asal Bosnia tersebut dengan kesungguhan dan determinasinya untuk menunjukkan dirinya layak masuk dalam jajaran elit Lazio musim ini.

Tak hanya Petkovic. Zarate juga menunjukkan kesungguhannya kepada Lotito dan Tare. Kontrak Zarate memang tinggal dua tahun dengan Lazio, hingga Juni 2014. Kontrak pemain berkebangsaan Argentina ini akan segera diperpanjang selama 2 tahun hingga Juni 2016. Dengan gaji Zarate sebesar sekitar 2,5 juta euro permusim, maka sisa kontrak Zarate bernilai sekitar 5 juta euro.

Yang menarik, nilai kontrak Zarate tidak menjadi 10 juta euro, tetapi tetap pada angka sekitar 5 juta euro. Dengan kata lain, gaji Zarate dipangkas setengahnya. Atau, Tare memperoleh tambahan 2 tahun pengabdian Zarate dengan gratis, cuma-cuma. Yang lebih menarik, Zarate bersedia menerima ini. Sungguh besar tekad Zarate kali ini.

Selasa, 17 Juli 2012

Zarate Di Persimpangan Jalan


Zarate Di Persimpangan Jalan
oleh Galuh Trianingsih Lazuardi
© 2012
“Dia telah bertambah dewasa,” kata Rocchi. “Dia bagian penting dari tim dan sejauh ini dia berusaha keras untuk menjadi bagian dari pemain lain,” puji Petkovic. Zarate baru?

Setidaknya ada yang berbeda dari Zarate awal musim ini. Untuk pertama kalinya dia datang dengan berat badan ideal usai sebulan di kampung halaman. Dan meskipun datang sehari terlambat, untuk pertama kalinya hal ini terjadi bukan karena kesalahannya. Yang mencengangkan, Zarate menemui sekelompok fans yang berkumpul di depan gerbang pusat latihan di Formello, memenuhi permintaan tandatangan dan berfoto bersama atau sekedar berbincang. Padahal selama ini Zarate dikenal sebagai pribadi angkuh yang “jaim” terhadap fans. Zarate baru telah lahir, tetapi mengapa?

Pemain Termahal Lotito
Zarate adalah pemain termahal yang pernah dibeli Lotito, tak kurang dari 20 juta euro. Zarate juga menempati peringkat pertama dalam daftar gaji Lazio bersama Klose, 2,5 juta euro per musim. Musim pertama bersama Lazio yang cukup cemerlang seolah segera membentuknya menjadi pribadi kontroversial. Di ruang ganti dia bersikap kurang bersahabat dan di lapangan permainannya cenderung individualitis. Sikap ini tak bermasalah bagi Reja, pelatih pragmatis yang lebih mementingkan hasil daripada proses dan sistem permainan tim secara keseluruhan. Sejauh menyumbangkan gol, Reja mengabaikan aspek non-teknis.

Petaka datang pada awal musim lalu ketika manajemen Lazio mendatangkan Klose dan Cisse. Ketika Hernanes, Mauri dan Rocchi menyambut hangat keduanya, Zarate bersungut-sungut. Dan ketika selama pra-musim Reja menempatkan Zarate hanya sebagai cadangan bersama Rocchi, Kozak dan Sculli, maka Zarate sampai pada batas kesabarannya. Dia meminta ditransfer ke luar Lazio kepada manajemen, dan menolak dimasukkan ke skuad Lazio ke Liga Europa, agar tetap dapat bermain di Liga Europa atau Liga Champions bersama klub lain.

Lotito selalu menuntut loyalitas total dari pemainnya dan tidak pernah menoleransi sikap seperti ini. Lihatlah apa yang terjadi pada Pandev ketika melakukan hal yang sama, dikeluarkan dari skuad dan “dibekukan” statusnya. Ledesma juga pernah mengalami ini, sebelum akhirnya ditolong Reja. Maka tak ayal lagi, pada hari terakhir calcio mercato, Zarate dipinjamkan ke Inter.

Periode Terburuk
Di Inter Zarate tak butuh lama untuk mengeluarkan komentar ke media yang menyakiti hati Lotito, “Inter adalah klub terhebat yang pernah diperkuatnya. Saya berharap dapat dipermanenkan di sini,” kata Zarate. Di bawah rezim Gasperini dan Ranieri, Zarate lebih sering menghangatkan bangju cadangan. Ketika pelatih Inter beralih ke Stramaccioni dan Zarate menjadi pemain inti, “Saya ingin terus bertahan di Inter daripada kembali ke Lazio.” Ketika ternyata Inter tak berminat lagi kepadanya, “Setahun bersama Inter adalah periode terburuk dalam karir saya. Saya ingin kembali ke Lazio dan merindukan Derby della Capitale.”

Pemain hebat memang acapkali bersikap kontroversial. Tetapi apakah Zarate sehebat dan seberbakat Diego Maradona atau Mario Balotelli untuk merasa berhak bersikap kontroversial? Bagi Lotito dan Tare, tidak! Maka dalam berbagai kesempatan keduanya mengisyaratkan “Tidak!” bagi kembalinya Zaraete. Hingga 7 Juli 2012 Tare masih mengungkapkan ke media bahwa Zarate akan dijual. Petkovic juga mengawali dengan sikap skeptis terhadap Zarate, karena belainan dengan Reja, dia pelatih idealis yang sangat mementingkan kerjasama dan keharmonisan tim di dalam dan di luar lapangan.

Petkovic Jatuh Hati
Sepekan dalam latihan pra-musim di Auronzo di Cadore, Zarate menjadi anak manis di dalam dan di luar lapangan. Dalam beberapa sesi latihan, Zarate ikhlas menerima kemarahan Petkovic karena sikap individualistisnya dalam bermain. Zarate bekerja keras menunjukkan dirinya layak masuk dalam pasukan elit Petkovic. Pelatih asal Bosnia ini akhirnya jatuh hati, dan mengisyaratkan keinginannya memakai Zarate, walaupun belum mengambil keputusan akhir. Dengan posisi Klose, Kozak dan Rocchi yang hampir pasti masuk tim serta tiga trequartista Ederson, Hernanes dan Mauri kokoh di skuad, maka Zarate masih harus bersaing dengan Alfaro dan Floccari. Dan tentu saja Rozzi sebagai produk regenerasi Akademi Lazio yang direkomendasikan oleh Klose, serta siapapun striker baru yang akan dibeli Tare. Musim ini Lazio memang akan tampil dengan tim yang ramping, hanya beranggotakan 24 pemain senior dan 2-4 pemain jebolan Primavera, sehingga persaingan antar-pemain untuk masuk tim sangat ketat.

Manajemen Lazio belum banyak berkomentar tentang hal ini. Tetapi Tare tetap akan membeli satu penyerang lagi, kemungkinan Guidetti atau Pazini. Lotito dikabarkan akan memperpanjang kontrak Zarate selama setahun, tetapi dengan sisa nilai kontrak yang sama. Ini sama saja dengan menurunkan gaji Zarate menjadi duapertiga dari gaji semula. Belum jelas, apakah Zarate berkenan menerima tawaran “sadis” Lotito ini.

Zarate memang telah berubah, menjadi Zarate baru yang bekerja keras, rendah hati dan berkepribadian menyenangkan. Tetapi tampaknya dia harus bekerja lebih keras lagi meluluhkan hati Lotito dan Tare untuk menjadi bagian penting Lazio musim ini. Zarate memang tengah berada di persimpangan jalan karirnya di Lazio. Terus berjuang, Mauro!

Sabtu, 14 Juli 2012

Petkovic: "Semua Pemain Penting, Tetapi Tak Ada Yang Tak Tergantikan!"


Petkovic: “Semua Pemain Penting, Tetapi Tak Ada Yang Tak Tergantikan!”
Mengakhiri hari kelima pelatihan pra-musim di Auronzo di Cadore, pelatih Vladimir Petkovic akhirnya bersedia memberi konferensi pers pertamanya sebagai pelatih Lazio."Hari-hari terakhir ini saya banyak membaca banyak hal di media, tetapi kalian akan memiliki banyak waktu untuk mengenal saya lebih baik. Yang terpenting saat ini adalah apa yang telah dilakukan oleh para pemain. Kami menetapkan beberapa target, dan sangat penting untuk memastikan mereka tidak berlatih terlalu berlebihan serta melakukannya tahap demi tahap. Kami berlatih tentang aspek teknis-taktis, memastikan pelatihan tidak monoton sehingga meningkatkan gairah dan kesenangan pemain dalam permainan sepakbola. Fase pertama berjalan baik, kami mengumpulkan berbagai data yang memungkinkan kami mengukur kekuatan tim dan individual pemain. Sangat penting bagi saya untuk mendapatkan masukan balik dari para pemain dan staf, sehingga saya dapat mengevaluasi apa yang telah dikerjakan hingga saat ini. 

Tentang sistem dan taktik yang akan diterapkan Lazio musim ini, “Saya memiliki prinsip-prinsip taktik yang akan dipakai, hari ini saya akan memberikannya kepada mereka dan menekankan bahwa hanya jika mereka menguasai dan menjalankannnya, maka kami akan siap bermain. Apapun taktik yang akhirnya kami terapkan, yang terpenting adalah terciptanya stabilitas dan setiap pemain bertahan harus tahu apa yang dilakukannya dan apa yang dilakukan oleh rekannya. Minggu pertama ini kami menekankan pada peningkatan kapasitas aerobik, pencegahan cedera, koordinasi dan peregangan. Minggu depan kami akan menambah bebennya dan memulai menggarap soal taktik. "

Ketika ditanya tentang penempatan Ederson dan Hernanes, Petkovic mengatakan bahwa pada tahap ini dia meminta pemainnya untuk tidak berkonsentrasi pada posisi tertentu, melainkan mencoba berbagai poisisi. "Itu akan menguntungkan dalam menjalani seluruh musim kompetisi. Setelah 3 minggu, barulah pemain akan ditempatkan pada posisi taktisnya, sekarang saya membiarkan mereka bereksperimen. Kami berusaha meningkatkan bukan hanya kualitas teknis, tetapi juga kualitas taktis dan organisasi permainan. Lazio harus mampu bermain agresif, kompak dan di atas segalanya harus bermain sebagai sebuah tim. Kami harus selalu menekan lawan, "

Hal terpenting bagi Petkovic adalah membuat Lazio bermain kolektif, bukan individualistis. Zarate, yang sering bermain individualistis, beberapa kali terkena teguran keras dari pelatih asal Bosnia ini. "Bagi saya Zarate penting bagi tim. Mauro harus menjadi bagian dari permainan tim dan bekerja bersama dengan tujuan yang sama. Saya akan mengabaikan berita-berita baik negatif maupun positif tentang dia, saat ini saya hanya dapat mengatakan bahwa Zarate telah berusaha seperti hanya pemain lain. Saya belum memutuskan pemain mana yang saya sukai dan tidak kepada manajemen. Saya akan mengevaluasi setiap pemain sebelum memutuskannya. "

Petkovic juga ditanya tentang Lulic dan Mauri. Musim lalu Lulic banyak diganggu cedera, tetapi secara umum dia melewati musim lalu dengan baik. Tetapi saya yakin dia dapat  lebih baik lagi. Saya tahu, Lulic memberikan segalanya bagi tim. Pada posisi apa dia akan saya pasang? Dari lapangan tengah ke depan, dan dia dapat bermain di kedua sisi lapangan sama baiknya, juga dapat difungsikan sebagai bek sayap. Biarkan dia mencoba yang paling tepat, lalu akan saya bandingkan dengan pemain lain, dan menentukan posisi terbaiknya. Mauri? Hari pertama saya bicara dengan dia. Tak ada yang perlu dikatakan tentang Mauri. Saya bahkan tidak memiliki keraguan sedikitpun tentang dia."

Matuzalem belum juga tiba, dia masih berada di Brasil tanpa izin atau penjelasan apapun. “Saya tak akan berbicara banyak tentang pemain secara individual. Semua pemain penting, Matuzalem seharusnya juga penting. Sebetulnya saya punya rencana untuk dia, dan memehami kualitasnya membuar saya menyesal dia tidak hadir di sini. Bagaimanapun, meskipun semua pemain penting, tidak ada satu pemainpun yang tidak dapat saya coret. Apa yang terjadi berada di luar kekuasaan saya. Bersama manajemen, saya akan menindaklanjuti masalah ini." 

Akhirnya Petkovic ditanya tentang pasar transfer, khususnya tentang pemain Palermo, Federico Balzaretti. “Tiap hari kami membicarakan ini bersama staf dan Direktur Olahraga. Masalah transfer tidak bisa diputuskan mendadak, melainkan harus didisain dengan cerdas. Balzaretti telah membuktikan dirinya mampu bermain baik di kiri maupun kanan. Dia adalah salah satu pemain sayap terbaik di Italia."

(Terjemahan bebas dari tulisan Giannino Capaldi di http://lazioland.com/NewsProfile.htm?NewsId=1325) 


Kamis, 12 Juli 2012

Wawancara Dengan Kapten Rocchi


Wawancara Dengan Kapten Rocchi
Kapten tim Lazio, Tommaso Rocchi, berbincang dengan media pada akhir hari kedua latihan pra-musim di Auronzo di Cadore. Pagi harinya, para pemain diwajibkan memulai latihan pada pukul 7 pagi.

"Bangun sepagi itu dan langsung berlari-lari ke arah hutan tentulah suatu yang baru. Mengembalikan kebugaran adalah yang paling penting usai liburan. Ini bagian persiapan yang terpenting, dan kami akan bekerja keras untuk itu, sebagai landasan sepanjang musim yang akan datang. Melelahkan memang, tetapi, tetapi jelas akan membantu meraih hasil yang lebih baik. Semuanya untuk tujuan baik,."

Kemudian Rocchi menyampaikan kesannya tentang pelatih baru Lazio, Vladimir Petkovic: "Dia orang yang baik, berbicara dengan sangat baik, jelas dan langsung. Yang penting adalah kami harus bekerja sebaik kami bisa dalam suasana saling menghormati. Para staf memiliki pengetahuan yang baik, penuh perhatian kepada apa yang kami lakukan, bahkan juga di luar lapangan."

Tentang target pribadinya untuk musim ini: "Secara pribadi saya ingin melebihi apa yang dicapai Giordano dan lainnya dalam daftar pencetak gol Lazio sepanjang sejarah. Saya ingin bermain sebanyak mungkin untuk kepentingan tim. Sasaran tim adalah mencapai zona Liga Champions. Kami harus memiliki sikap yang kuat  untuk memenangi setiap pertandingan, bermain ofensif dan menguasai pertandingan. Manajemen Lazio selalu melakukan segalanya untuk meningkatkan performa tim."

Rocchi juga ditanya tentang rekan-rekannya, dimulai dari Mauri, yang masih menunggu keputusan akhir tentang nasibnya dalam kasus calcio scommese. "Dia telah melalui masa-masa sulit, tetapi dia tetap tenang. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bermain sepakbola dan berbuat yang terbaik bagi Lazio. Saya berharap situasi ini akan berakhir sesegera mungkin. Jika sesorang melakukan kesalahan, tentu saja dia harus bertanggung jawab."

Tentang Ederson, Rocchi berkomentar, "Yang pasti lebih mudah diajak bicara dibandingkan Dias,” Rocchi bercanda, “Dia sangat menyenangkan, berwawasan luas dan seorang pemain sangat berbakat. Saya rasa dia pemain yang berkualitas, pembelian besar yang akan berkontribusi besar pada tim."

Zarate telah kembali ke Lazio, tentang ini Rocchi berkata, "Saya rasa dia telah menjadi lebih dewasa. Dia selalu memiliki kualitas, tetapi seringkali itu saja tidak cukup. Sayangnya dia tidak memiliki kontinuitas (dalam tim). Apakah Zarate menimbulkan masalah di kamar ganti? Tidak pernah ada masalah serius. Memang sering ada kejadian (tak menyenangkan) akibat tingkah lakunya, dan dia tahu itu. Tetapi saya ulangi sekali lagi, secara keseluruhan tidak pernah ada masalah dalam tim.”

Akhirnya, Rocchi ditanya tentang kemungkinan taktik permainan yang akan diterapkan Lazio musim ini: "Taktik dan formasi belum ditentukan, tetapi kami telah mendapatkan gambaran bagaimana harus bermain dengan dan tanpa bola. Kami telah mendapatkan gambaran tentang menekan secara agresif untuk mendominasi penguasaan bola."
(Terjemahan bebas dari artikel Giannino Capali dari  http://lazioland.com/NewsProfile.htm?NewsId=1311 )